Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2018

Daftar Martir Kristen Seko


Seko, Negeri Para Martir Kristen
Daftar Martir Kristen Seko
Zakaria J. Ngelow

Dalam khotbah di Gereja Toraja, Jemaat Eno, Seko Padang, pada Hari Minggu Prapaskah III, 4 Maret 2018, saya menyebut Kekristenan di Seko sebagai “Kekristenan di Negeri Para Martir”. Sebagaimana dicatat dalam buku Masyarakat Seko Pada Masa DI/TII (1951-1965), lebih seratus orang Seko dibunuh pada masa pendudukan DI/TII, termasuk Ds. Pieter Sangka-Palisungan, Pendeta Gereja Toraja Resort Rongkong dan Seko, pada bulan Oktober 1953 bersama beberapa martir lainnya di daerah Malangke (kini bagian Kab. Luwu Utara).
Di antara para martir Seko dapat dicatat waktu, tempat dan nama-nama mereka di bawah ini. Kebanyakan mereka hanya dikenal nama kecilnya, tidak diperoleh nama baptis. Masa itu juga belum banyak orang Seko yang memakai nama keluarga.
Dua yang pertama. Pembunuhan pertama pada bulan Februari 1953 atas dua orang Beroppa di Rongkong (kampung Limbong?), yaitu:
1. Kele (Ambe’ Kondong) dan
2. Sassi’ (suami Indo’ Ritte’).

Korban-korban berikutnya setelah itu adalah,
3.    Bangkung, seorang remaja, yang ditembak pada bulan September di Kasimpo, dekat Beroppa, karena ikut kelompok yang melarikan diri.
4.    Sayang, seorang pemuda bernama asal Seko Tengah, dibunuh dan dikubur di jembatan Longa pada bulan September 1953.

Antara tahun 1953-1954 beberapa orang beriman lainnya dibunuh gerombolan DI/TII di Seko Tengah, yaitu:

5.    Emor Pangemanan (guru asal Minahasa, kakek Pdt Wilson Budiawan Pangemanan), mayatnya digantung di jembatan Sae (dekat Amballong), dan
6.    Pepa' (kakek Pdt Topan Pepa), bersama
7.    Ruung (seorang perempuan, ikut Seinendan pada zaman Jepang). Pepa’ dan Ruung berusaha menolong sejumlah perempuan yang suaminya sudah mengungsi, untuk melarikan diri ke tempat pengungsian suami mereka.
8.    Sambeang Kalambo, putra sulung Tomokaka (Kepala Adat) Beroppa', juga dibunuh di Longa, dengan diseret kuda.

Delapan martir di Pohoneang. Pada hari Minggu, tanggal 27 September 1953 gerombolan DI/TII menghukum mati dengan memancung delapan orang pemuda Seko di Pohoneang (Seko Tengah), yang ditangkap karena berusaha meninggalkan Seko ketika dipaksa masuk Islam. Mereka dipancung disaksikan masyarakat Seko dari berbagai kampung, yang dipaksa gerombolan DI/TII datang menyaksikan eksekusi itu. Diperoleh informasi bahwa keluarga para korban dengan dukungan Gereja Toraja Klasis Seko Embonatana telah mendirikan suatu monumen di Pohoneang untuk kedelapan martir itu. Mereka adalah:

1. Ello’,
2. Koti.
3. Panunda,
4. Saleno’,
5. Tehong,
6. Tilangka’,
7. Tumonga,
8. Tungga’.

Korban lain setelah itu di Seko Tengah:
1.     Bonga Palindang – dibunuh di Pasiriang, dekat Longa; mayatnya dihanyutkan di Sungai Betue.
2.    Kaba – seorang tua, petani, dibunuh di belakang rumahnya di Longa.
Para martir dari Seko Padang, 1954, 1956:
1.     Hibeto’ asal Singkalong, dibunuh di Po’ Bangka, dekat Lantang Tedong.
2.    Hikoro, wakil Kepala Kampung Singkalong, dibunuh di Mehire, dekat Kariango, karena melarikan diri dari Beroppa’.
3.    Amanna (ayah) Tahureke,
4.    Tahureke, dan
5.    Takossi’ (3-5 dibunuh di Malaling (antara Busak dan Hono), dekat Sungai Lodang)
6.    Sabbara’, asal Busak, dibunuh di Bengke;
7.    Toja’, dibunuh di Busak.
8.    Hirindu,
9.    Dombo,
10.  Toddo’ dan
11.   Pai (isteri Toddo’); 8-11 berasal dari Singkalong, ditangkap dan dibunuh ketika berusaha mengungsi ke Kalamanta (Sulawesi Tengah) pada tahun 1956.

Guru Injil dan 16 korban di Beroppa. Pada bulan Februari 1953 Pallai (Ambe’ Kaju) melarikan diri dari Beroppa’, namun kemudian ditangkap dan ditembak mati di hadapan masyarakat Beroppa’. Pada bulan Juni tahun 1954 gerombolan menghukum mati Guru Injil Paulus Rapa’ bersama delapan orang lain di Beroppa’, yang ditangkap di hutan karena melarikan diri. Mereka adalah:
1.     Paulus Rapa’ (Guru Injil)
2.    Otniel Osi’
3.    Pento’
4.    Po’ Losang
5.    Ongko
6.    Saleka
7.    Kodji’
8.    Tammemu’
9.    Ambe’ Kafutu
Yang sebelumnya sudah terbunuh ditembak gerombolan DI/TII di hutan itu ada tujuh orang, yaitu:
10.  Ambe’ Nganjak
11.   Wolter Bethony (balita)
12.  Indo’ Nareng
13.  Russa’
14.  Liana (balita)
15.  Barubuk
16.  Podi’ (gadis remaja 10-12 tahun) tersesat lebih 40 hari di hutan bersama sepupu sebayanya Reni Takudo. Keduanya ditemukan masih hidup tetapi Podi’ meninggal tak lama kemudian.
Sebelas syuhada pertempuran di Longa. Pada bulan September atau Oktober 1954 gugur sebelas putera Seko dalam pertempuran melawan gerombolan DI/TII di Longa. Mereka adalah:
1.     Lika
2.    Mallopi’
3.    Okko
4.    Penusuk
5.    Sungkilang (=Sukkilang)
6.    Tamare’
7.    Tambaru
8.    Tambolang
9.    Tasa’
10.  Tata’ (Kalaha’)
11.   Ambe’ Tiangnga’
Kemudian dua orang anggota pasukan pemuda Seko terbunuh, masing-masing
1.     Kasu - gugur pada awal 1955 ketika bertugas piket di antara Beroppa - Kariango, dan
2.    Patakka’ - gugur pada bulan Maret 1955 dalam penghadangan gerombolan DI/TII di Mapo' (wilayah Kalumpang).

Kepala Distrik, Proponen dan Tiga puluhan martir di Haunghulo-Lodang. Pada bulan Februari atau Maret 1963 gerombolan DI/TII menangkap dan membunuh Herman Batu Sisang, Kepala Distrik Seko di Pengungsian (mengungsi di Omu’, Sulawesi Tengah), bersama 32 orang rombongannya. Mereka sengaja berkunjung di masa damai (ceasefire) antara TNI dengan DI/TII. Di kampung Haunghulo 18 orang dibunuh lalu dimasukkan ke dalam tiga lubang, dan di kampung Lodang 15 orang dibunuh dan dimasukkan ke dalam dua lubang berisi sembilan orang (Kepala Distrik H.B. Sisang dkk), dan enam orang di lubang yang lain. Informasi yang diperolah kemudian bahwa mereka dibunuh pada pagi hari dan di salah satu rumah ada yang masih menawarkan makan sahur kepada beberapa korban. Kalau benar terjadi menjelang lebaran tahun 1963, maka kejadiannya pada bulan Februari. Dalam kalender Masehi tahun 1963 Idul Fitri pada tanggal 26-27 Februari. Mereka yang dibunuh adalah:
1.     Herman Batu Sisang (Kepala Distrik)
2.    Titus Tombang (Juru tulis Kepala Distrik)
3.    Jakob Ngali’ Batto’ (Proponen Gereja Toraja)
4.    Tasi’ Sisang (Guru Jemaat, Kepala Kampung Ledo)
5.    Barnabas Kaliputu
6.    Barrena
7.    Birri’ (Amanna Saripa)
8.    Darisan
9.    Daro
10.  Dette
11.   Doa’
12.  Johanis Kalang
13.  Kasong
14.  Kosi’
15.  Lambanang
16.  Lemo
17.  Lori
18.  Luther Assa’
19.  Mani’
20. Maro
21.  Marthinus Panandu
22. Matius Jokkok
23. Nombe
24. Parapa’
25. Poppanda Lekke’
26. Rattena
27. Sadi’
28. Tapandu
29. Tappu Sulo’
30. Taruk
31.  Tata’
32. Terang
33. Tonde’
Beberapa korban lain setelah pembunuhan rombongan Kepala Distrik Seko di Haunghulo dan Lodang:
1.     Peung – ditembak gerombolan DI/TII di Kare’pak, Rantedanga’, pada tanggal 31 Maret 1963.
2.    Indo’ Dui – seorang nenek tua yang ditemukan hangus dalam pondoknya yang dibakar gerombolan DI/TII di Kare’pak, pada tanggal 31 Maret 1963.
3.    Mali’ – anggota pasukan Seko yang piket di Pessintojangan ditembak gerombolan DI/TII pada tanggal 19 April 1963.
4.    Tarundu’ – anggota TNI Yon 758 asal Seko yang berlibur dari kesatuannya di Toraja, dibunuh gerombolan DI/TII di Buntubai (Rongkong) pada tahun 1963.

Selain monumen untuk delapan martir Seko di Pohoneang, para martir lainnya belum dibuatkan monumen. Sebaiknya juga di Beroppa dan di Haunghulo-Lodang didirikan monumen sebagai tanda bahwa Kekristenan di Tanah Seko didirikan di atas darah para martirnya. Tertulianus (kl. 155-240), salah seorang Bapa Gereja, yang hidup di masa awal Kekristenan yang penuh penganiayaan dan pembunuhan orang beriman, menyatakan: Darah para martir adalah benih gereja.

Rujukan:
Catatan di atas berdasarkan naskah Zakaria J. Ngelow, “Daftar Korban yang terbunuh pada Masa Gerombolan DI/TII di Seko (1953-1965)”, dalam Zakaria J. Ngelow & Martha Kumala Pandonge (eds), Masyarakat Seko Pada Masa DI/TII (1951-1965). Makassar: Yayasan Ina Seko, 2008, hh. 203-209. Daftar disusun berdasarkan informasi lisan dari sejumlah nara sumber, dan setelah dicek, dimuat dengan catatan “tetap terbuka untuk dikmoreksi”. Sejak penerbitan belum ada fihak yang mengoreksi daftar yang ada. Daftar memuat semua nama yang dibunuh atau gugur selama masa gerombolan, beberapa di antaranya beragama Islam. Dalam catatan ini, hanya yang beragama Kristen yang dicantumkan, sejumlah 96 orang.

Makassar, 9 Maret 2018

Zakaria J. Ngelow
-       lahir di Beroppa, Seko tahun 1952
-       studi teologi dan mendalami Sejarah Kekristenan












18 September 2010

Memaknai Pengungsian Masyarakat Seko

[Surat 3 tahun lalu]


UCAPAN SELAMAT Pengurus Yayasan Ina Seko
menyampaikan
selamat berbahagia dan turut bergembira
atas Pengucapan Syukur ke-2 Masyarakat Seko
memperingati kembalinya dari pengungsian,
tanggal 27 - 31 Oktober 2007.
Kiranya Tuhan memberkati Masyarakat Seko seluruhnya,
baik di Seko maupun di rantau.

Makassar, 13 Oktober 2007
Atas nama Pengurus Yayasan Ina Seko,

Zakaria J. Ngelow/Ketua,

Marsunyi Bangai/Sekretaris,


Bersama Ucapan Selamat ini kami lampirkan sambutan pribadi Ketua Yayasan Ina Seko untuk seluruh masyarakat Seko. Kami mohon untuk dibacakan pada saat perayaan oleh Koordinator Perwakilan Yayasan Ina Seko di Seko, Bapak Drs. Tahir Bethony. Terima kasih.



MAKNA SEJARAH PENGUNGSIAN MASYARAKAT SEKO

oleh Zakaria Ngelow

Sambutan pada Perayaan Syukur ke-2 Kembalinya Masyarakat Seko dari Pengungsian, akhir Oktober 2007 di Rantedanga’, Desa Tirobali, Kecamatan Seko. (Dibacakan oleh Drs. Tahir Bethony, Koordinator Perwakilan Seko Yayasan Ina Seko)

Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara masyarakat Seko yang saya kasihi dan rindukan. Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara para undangan yang saya hormati.

Syukur kepada Tuhan atas perkenan-Nya bagi masyarakat Seko untuk kedua kalinya merayakan Kembalinya Masyarakat Seko dari Pengungsian. Pertama-tama saya mohon maaf karena hanya dapat menjumpai masyarakat Seko dalam perayaan syukur ini melalui sambutan ini. Saya tetap rindu dan mudah-mudahan Tuhan beri waktu kepada saya untuk bertemu langsung dengan masyarakat Seko di Seko pada waktu yang diperkenankan-Nya. Tuhan memberi saya kesempatan berkali-kali berkunjung ke banyak tempat di dalam dan di luar negeri, tetapi belum disempatkan lagi ke Seko sejak terakhir kali tahun 1975.

Saya menghargai prakarsa perayaan syukur kedua ini. Dalam catatan saya perayaan syukur dilangsungkan tahun 1966, dihadiri antara lain Pdt. A,J, Anggui, M.Th darti Badan Pekerja sinode Gereja Toraja. Saya usulkan supaya perayaan syukur ini dijadikan tradisi perayaan masyarakat Seko sekali dalam 5 (lima) tahun. Bisa pula dipikirkan supaya perayaan syukur itu menjadi pertemuan raya berkala seluruh masyarakat Seko, baik yang di Seko maupun yang di rantau. Selain kebaktian syukur, perayaan ini perlu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna dalam menggalang persatuan, kemajuan dan tanggungjawab masyarakat Seko, termasuk warga Seko yang tinggal di rantau. Perayaan seperti ini juga merupakan peluang berkreasi mengembangkan berbagai bentuk kesenian tradisional Seko (menari, menyanyi, dsb). Pada waktunya perayaan syukur bisa menarik perhatian dunia pariwisata di Seko.

Sejarah Pengungsian

Sejarah pengungsian masyarakat Seko berlangsung dari tahun 1953 - 1964. Dalam masa lebih 10 tahun itu masyarakat Seko mengalami penindasan gerombolan DI/TII, pelarian ke luar Seko, usaha-usaha menyelamatkan warga masyarakat yang masih dikuasai gerombolan, mengatur kehidupan masyarakat Seko di pengungsian, mengembalikan masyarakat Seko ke Seko, dan usaha-usaha mengamankan Seko dari pendudukan gerombolan DI/TII.

Kembalinya masyarakat Seko dari pengungsian dimulai pada tahun 1961 ketika berlangsung genjatan senjata (cease fire) antara TNI dengan gerombolan DI/TII. Almarhum Bapak Timotoius Tombang, yang masa itu tinggal di Pemanikan (Makki) sebagai pelaksana tugas Kepala Distrik Seko di Pengungsian, bersama sejumlah pemimpin masyarakat Seko -– antara lain almarhum Bapak T. Tompe (Ambe’ Marina), almarhum Bapak M.P. Reseng (Ambe’ Rassan), almarhum Bapak Otniel Ontong Patanduk dll -– memprakarsai pemulangan masyarakat Seko dari Makki. Almarhum ayah saya ikut di dalam perencanaan itu, walau pun kemudian almarhum lebih tertarik pada tawaran almarhum Andi Bintang, seorang bangsawan Luwu’ di Palopo –- rekannya di penjara pada zaman revolusi –- untuk memindahkan para pengungsi dari Makki ke suatu tanah hibah kerajaan Luwu di daerah Bone-bone.
Sesudah berbagai persiapan, suatu pertemuan besar dilakukan di Barre’ menyangkut upaya pemulangan pengungsi ke Seko, termasuk menyatakan terima kasih dan pamit kepada pemuka dan masyarakat Makki (Karataun, Karama, dan Kalumpang), dan juga membahas dan memutuskan berbagai masalah yang dapat timbul di Seko kelak (antara lain mengenai kerbau yang masih tersisa di Seko, batas-batas tanah yang bergeser atau kabur, dsb). Disepakati bahwa pemulangan pengungsi dimulai dengan merintis pembukaan kebun: para laki-laki mendahuli ke Seko membuka kebun di Rantedanga’, lalu keluarga akan menyusul setelah tersedia makanan. Masyarakat Seko di Makki waktu itu terpecah antara yang mendukung upaya memulangkan pengungsi dan yang menentangnya. Baru sejak tahun 1964 -– ketika Seko sudah aman -– kelompok yang menentang beramai-ramai kembali ke Seko. Terbunuhnya almarhum Bapak Harun Batu Sisang pada tahun 1963 adalah bagian dari upaya membuka kemungkinan memulangkan masyarakat Seko dari pengungsian di Sulawesi Tengah.

Perayaan syukur ini hendaknya disertai upaya-upaya serius dan terus menerus mengenal peristiwa pengungsian pada tahun 1950-an sampai 60-an sambil mengembangkan makna mendasar yang terkandung di dalam peristiwa pengungsian orang Seko itu. Dari tahun ke tahun para orang tua kita yang masih mengalami pengungsian satu per satu dipanggil Tuhan dari tengah-tengah kita. Kita semua dan anak-anak kita bisa kehilangan jejak sejarah masyarakat kita yang demikian penting ini jika tidak ada upaya-upaya serius mewariskan dan memaknai pengalaman pengungsian mereka. Kita perlu menulis pengalaman-pengalaman pribadi pengungsian masyarakat Seko dan merenungkan keajaiban tuntunan Tuhan kepada kita.

Saya mulai menulis tentang pengungsian orang Seko dalam suatu presentasi untuk loka karya internasional para teolog muda Kristen di Kyoto (Jepang) pada tahun 1985. Saya juga pernah menulis suatu karangan mengenai selayang pandang sejarah masyarakat Seko. Beberapa tokoh masyarakat Seko telah saya wawancarai pengalaman hidup masing-masing secara ringkas. Beberapa dari mereka sudah meninggal. Almarhum ayah saya, Yusuf Kontang Ngelow, sudah menulis pengalaman-pengalamannya turut memimpin masyarakat Seko sejak pendudukan DI/TII di Beroppa’ sampai masa pengungsian di Makki. Bapak Kapt TNI-AL (Purn) Silas P. Kalambo menulis naskah tentang Komando Operasi Pong Huloi, yakni upaya pengamanan daerah Seko Padang dari pendudukan gerombolan DI/TII pada tahun 1964-1965. Jauh sebelumnya almarhum Bapak P.K. Bethony menulis beberapa pokok mengenai Seko dalam suatu naskah panjang tulisan tangan. Naskah-naskah itu belum diterbitkan. Yayasan Ina Seko sedang mengumpulkan tulisan-tulisan mengenai Seko dan pengungsian orang Seko, yang masih sangat sedikit jumlahnya itu. Mudah-mudahan dengan perkenan Tuhan maka tahun depan bisa diterbitkan dalam satu buku kumpulan karangan.

Beberapa Pemaknaan

Saya mencoba mengemukakan beberapa makna penting dalam sejarah pengungsian Seko itu sebagai berikut:

Pertama, pengungsian adalah bencana yang menimpa seluruh masyarakat Seko.
Pengungsian akibat pendudukan dan penindasan gerombolan DI/TII meliputi seluruh masyarakat Seko: To Lemo, To Pevanean, To Padang. Sebab itu perayaan syukur peringatan kembalinya masyarakat Seko dari pengungsian harus merupakan peringatan bersama seluruh masyarakat Seko, termasuk kelompok-kelompok masyarakat Seko yang tetap tinggal di daerah pengungsian, misalnya di Makki, Toraja (To’tallang), Seriti, Omu’, Palolo dll. Karena itu saya usulkan supaya perayaan syukur pada kesempatan mendatang dilakukan bergilir oleh ketiga rumpun masyarakat Seko. Pada perayaan syukur kali ini To Lemo menjadi penyelenggara. Perayaan berikutnya To Pevanean, lalu berikutnya lagi To Padang, dst. Untuk itu perlu dilakukan percakapan-percakapan dalam persaudaraan, dan dengan rendah hati, keterbukaan, saling menghargai dan tanpa prasangka di antara para pemimpin masyarakat Seko. Semangat kesatuan dan persatuan seluruh masyarakat Seko harus dinyatakan dan dikembangkan dalam perayaan syukur itu. Harap diingat pula bahwa saudara-saudara kita yang beragama Islam adalah juga warga masyarakat Seko yang turut menderita sebagai korban pendudukan dan penindasan gerombolan DI/TII. Mereka juga harus dilibatkan dalam perayaan syukur ini, bukan sebagai tamu melainkan sesama warga masyarakat Seko yang turut menyatakan perayaan syukur bersama.

Kedua, pengungsian meninggalkan para pahlawan.
Sejarah pengungsian masyarakat Seko berakibat bukan saja banyak korban harta tetapi juga banyak korban jiwa. Saya berusaha menyusun data (yang belum lengkap) dari sekitar 100 orang Seko yang dibunuh oleh gerombolan DI/TII antara tahun 1953 - 1963. Kita harus mengingat dan menghargai pengorbanan jiwa mereka itu, baik yang ditangkap lalu dibunuh, maupun mereka yang gugur dalam perlawanan bersenjata melawan DI/TII, serta yang gugur dalam pelarian. Antara lain gugur 11 orang pasukan Seko dalam perlawanan terhadap DI/TII di Pevanean pada bulan Oktober 1954. Demikian juga gerombolan DI/TII membunuh dengan biadab Bapak Harun Batu Sisang (Kepala Distrik Seko di Pengungsian) dan Bapak Timotius Tombang serta Proponen (Calon Pendeta) Yakob Ngali’ bersama lebih 30 orang pemuka dan warga masyarakat Seko di Lodang pada tahun 1963. Sudah lama saya usulkan supaya masyarakat Seko mendirikan monumen atau tugu sebagai tanda peringatan bagi mereka, bahkan mengupayakan mengumpulkan sisa-sisa jasad mereka untuk dikuburkan kembali bersama-sama di satu atau beberapa lokasi yang terpilih. Sudah ada yang mengusulkan supaya monumen peringatan didirikan di tiga tempat: di Pevanean, di Beroppa’, dan di Lodang (Hanghulo). Mudah-mudahan kita semua dapat mewujudkan hal ini secepatnya dan sudah selesai sebelum perayaan syukur berikutnya. Tetapi lebih dari sekadar tugu atau monumen, mereka yang gugur itu harus dikenang sebagai pahlawan masyarakat Seko, yang memberi kita seluruh warga masyarakat Seko jati diri, kebanggaan, dan inspirasi untuk memajukan masyarakat Seko, dan bahwa kita juga rela berkorban jiwa daripada ditindas oleh siapa pun.

Ketiga, pengungsian karena iman Kristen.
Sejarah pengungsian masyarakat Seko terkait dengan penolakan orang Seko terhadap penindasan dan pemaksaan meninggalkan agama Kristen oleh gerombolan DI/TII. Sebab itu, sejarah pengungsian haruslah memotivasi kesetiaan beriman, keluhuran budi, dan persekutuan jemaat orang Kristen Seko bahwa kekristenan kita dipertahankan dengan darah dan nyawa para martir Kristen Seko. Kita juga perlu mengingat secara khusus pembunuhan terhadap almarhum Pdt. P. Sangka’-Palisungan, pendeta Gereja Toraja untuk wilayah Rongkong dan Seko pada tahun 1953. Orang Seko memang tidak sendiri mengalami penindasan DI/TII. Masyarakat-masyarakat Kristen di daerah Rongkong, Rampi, Kalumpang, Ranteballa, Pantilang, Maleku-Mangkutana, Tana Toraja, Mamasa, Soppeng (Bugis), Malino (Makassar), dan daerah-daerah lain juga mengalaminya. Juga banyak orang Kristen di daerah-daerah itu yang menderita dan terbunuh. Dalam kaitan itu baiklah kita mengembangkan persaudaraan dan kerjasama dengan umat Kristen di Sulawesi Selatan dan di Sulawesi Barat.

Keempat, pengungsian dan keprakarsaan orang Seko.
Dalam sejarah pengungsian sangat menonjol keprakarsaan orang Seko menghadapi kesulitan-kesulitan kehidupan masyarakatnya. Perlawanan kepada DI/TII untuk mengamankan Seko baik dalam perang Lereng Cinta di Pevanean (dan Kariango) pada tahun 1954 maupun Komando Operasi Pong Huloi di Seko Padang (1963-1964) diprakarsai putra-putra Seko sendiri. Demikian juga penyelamatan masyarakat Seko yang masih dikuasai gerombolan. Almarhum Bapak Yohan Kasuvian Kalambo (waktu itu Komandan Polisi di Palu) menyelamatkan sejumlah masyarakat Seko dari Eno pada tahun 1956 dan mengungsikan mereka ke Omu, Palu. Demikian juga beberapa tokoh lainnya. Khususnya pengungsian di Makki, saya perlu menyebut tiga keprakarsaan pemuka-pemuka masyarakat Seko mengatur kehidupan pengungsi Seko yang cukup mantap:

(1) Konsolidasi pasukan keamanan (OPR/OPD) untuk bersiap menghadapi berbagai ancaman keamanan. Almarhum ayah saya adalah salah seorang pimpinan pasukan Seko, yang pernah bersama pasukan Kalumpang (pimpinan almarhum Bapak Marten Andayo) membantu pengamanan di daerah Mamuju dan Mamasa pada tahun 1958.
(2) Kampung-kampung pengungsi Seko didirikan: Kapai, Rante Lo’po’, Timbu, Lantang Tedong, Tappo, Pemanikan, dan Pattung (untuk To Lemo), Ladang dan Ledo (untuk To Pevanean) masing-masing dengan perangkat pejabatnya. Dan bersama dengan itu juga jemaat-jemaat dibentuk dengan majelisnya, yang dapat berfungsi dengan baik sekalipun tanpa adanya pendeta jemaat (baru pada tahun 1961 Pdt. D.P. Kalambo ditempatkan Gereja Toraja sebagai pendeta jemaat-jemaat Seko di Makki). Dalam hubungan itu saya perlu menyebut khusus jasa almarhum Pdt. (waktu itu masih Guru Injil) P. Pattikayhatu dari Gereja Toraja Mamasa di Kalumpang yang setiap kali melayani jemaat-jemaat Kristen Seko di Makki.

Keprakarsaan lainnya, yang juga sangat penting adalah:
(3) Mendirikan beberapa Sekolah Rakyat (SR) dan sebuah SMP (dipimpin oleh Bapak Obet Pepa’ setelah lulus SGA di Rantepao) yang kemudian dihubungkan dan diasuh oleh YPKT (Yayasan Pendidikan Kristen Toraja). Saya mulai sekolah di SR di Timbu (al. bersama sdr Tandiagi Bambangan) dalam bangunan gereja sederhana, dan kemudian di Tappo dalam bangunan sekolah yang juga sederhana, yang didirikan oleh masyarakat Seko sendiri. Guru-gurunya dipungut dari kalangan sendiri apa adanya, bahkan ada yang belum lulus SR, tetapi mereka penuh tanggung jawab dan menghasilkan lulusan yang cukup bermutu. Mereka tidak digaji, kecuali memakai tenaga anak-anak sekolah untuk sehari dalam seminggu bekerja di kebun masing-masing guru. Para guru sekolah di pengungsian amat besar tanggungjawab, jasa dan pengorbanannya bagi masyarakat kita. Di antara guru-guru saya di Makki saya mengingat antara lain Bapak Karel Mantolo’, Bapak Obeth Lebba Pasarrin (Ne’ Uban), Bapak Luther Todja, dan Bapak Yohanis Noo Pasande. Ibu Reni Takudo juga pernah mengajar saya di SR Tappo, juga almarhumah Ibu Maria Rapa, serta Ibu Elis Tibian.

Saya masih perlu menyebut satu keprakarsaan para pemimpin masyarakat Seko, yakni membentuk satuan Komando Operasi Pong Huloi oleh putera-putera Seko yang berdinas di militer dan polisi. Mereka sepakat cuti ke Seko dengan membawa senjata api untuk bersama-sama pasukan rakyat mengusir satuan gerombolan DI/TII di Seko pada tahun 1963-1964. Baru sesudah itu satuan TNI beberapa kali dikirim dari Makassar untuk mengamankan Seko dan mengejar sisa-sisa gerombolan DI/TII yang bersembunyi di rimba raya Seko.
Keprakarsaan atau inisiatif dan pengorbanan menghadapi masalah-masalah kehidupan masyarakat menjadi ciri khas pemimpin dan masyarakat Seko dahulu, yang harus terus dihidupkan sekarang dan di masa depan. Dalam hubungan itu pula kepemimpinan masyarakat Seko masa kini dan masa depan jangan lagi didasarkan pada silsilah turunan dan dongeng-dongeng leluhur masa silam, melainkan pada prestasi, tanggungjawab dan keprakarsaan membela dan memajukan masyarakat Seko.

Kelima, pengungsian dan persaudaraan dengan banyak orang lain.
Sejarah pengungsian membawa kita masyarakat Seko ke tengah-tengah masyarakat-masyarakat di tempat lain. Kita berterima kasih kepada masyarakat dan pemerintah daerah Karama, Karataun, dan Kalumpang atas penerimaan dan bantuan kepada pengungsi Seko. Tak boleh kita lupakan bahwa pasukan OPR dari daerah ini sudah sejak awal membantu pasukan pemuda Seko dalam upaya-upaya mengamankan Seko dari gangguan dan pendudukan gerombolan DI/TII dan mengungsikan masyarakat. Demikian pula kita berterima kasih kepada masyarakat dan pemerintah di Tana Toraja, dan di Sulawesi Tengah (Kulawi dan Kaili). Maka sambil menegaskan identitas kita yang khas sebagai orang Seko, kita terbuka menjalin persaudaraan dengan masyarakat-masyarakat tetangga kita, dan kalau bisa kita patut berbalas jasa dengan mengabdikan diri sesuai panggilan masing-masing di tengah-tengah dan/atau bagi mereka juga. Pada masa pengungsian satuan-satuan pasukan Seko ikut terlibat dalam membela masyarakat setempat dari gangguan gerombolan pengacau keamanan di daerah Tana Toraja dan di daerah Mamuju dan Mamasa.

Keenam, bencana pengungsian membawa berkat tersembunyi.
Ada banyak orang yang berpendapat bahwa sekiranya tidak ada pengungsian karena penindasan gerombolan DI/TII maka tidak akan banyak orang Seko yang hidup di rantau dan turut dalam berbagai kemajuan masyarakat Indonesia moderen. Banyak pemuda Seko yang masuk sekolah dan akhirnya bekerja di rantau, antara lain sebagai guru sekolah dan pegawai negeri lainnya, serta pegawai swasta. Saya tidak bisa membayangkan apakah almarhum ayah saya bisa jadi pegawai negeri dan saya dan adik-adik saya bisa bersekolah dengan baik sekiranya orang tua saya tidak mengungsi sampai ke Makassar pada tahun 1963. Salah satu kenyataan dalam sejarah pengungsi Seko adalah pada tahun 1956 lebih 50 orang Seko direkrut masuk tentara di Palu dan di Rantepao oleh almarhum Mayjen TNI Frans Karangan. Para pensiunan tentara orang Seko, antara lain Bapak J. Tapepa’ Lindang, Bapak Y. Bangkalang, Bapak Saul Sadi’, Bapak Silas Sorong, Bapak M. Sarunde’ adalah putera-putera Seko yang direkrut jadi tentara waktu itu. Sudah banyak pula yang mendahului kita, sepeti almarhum Bapak M. Sarambu, almarhum Bapak Piter Kalesu, almarhum Bapak Piter Siing. Karena merantau akibat pengungsian, almarhum Letkol TNI Robo Mayaho memperoleh jalannya masuk Akademi Mliter Nasional di Magelang dan lulus menjadi perwira. Demikian pula Bapak Pdt. D.P. Kalambo dan Bapak Pdt. Yan Tandilolo bisa masuk sekolah pendeta di Makassar, serta Bapak Letkol Pol (Purn) Yohanis Lembeh masuk polisi.
Memang tanpa pengungsian pasti ada saja orang Seko yang akan merantau dan mendapat pendidikan lanjut, tetapi akan sangat terbatas jumlahnya. Kenyataan penting dewasa ini adalah bahwa dari ratusan sarjana orang Seko, kebanyakan mereka anak-anak warga Seko di rantau.
Pemahaman bahwa pengungsian membawa berkat tersembunyi penting menjadi keyakinan kita dan anak-anak kita, supaya dalam kesulitan, penderitaan dan berbagai masalah kita tetap mempunyai harapan dan iman bahwa benar Tuhan mengatur langkah hidup kita secara pribadi, keluarga maupun masyarakat Seko seluruhnya.

Visi

Sebelum saya akhiri sambutan yang sudah agak panjang ini, saya meminta kesungguhan kita semua untuk bersama-sama memajukan masyarakat Seko. Secara iman saya memahami bahwa Tuhan mengembalikan kita dari pengungsian ke Seko supaya kita membangun dan memajukan kehidupan masyarakat kita di Seko dan memelihara kelestarian Tanah Seko. Penting memperhatikan bahwa kekayaan alam Tana Seko sudah dan akan terus menarik banyak orang dari luar masuk Seko. Pemerintah sudah mulai membangun Seko, tetapi kemajuan di Seko bisa meminggirkan anak-anak Seko sendiri jika pendidikan tidak didukung dan dimajukan mengikuti tuntutan mutu sumber daya manusia moderen. Saya mendengar bahwa pendidikan di Seko masih sangat ketinggalan. Guru-guru, para pemuka agama, dan para pemuka masyarakat serta pejabat pemerintah sama bertanggungjawab terhadap pengembangan mutu pendidikan putera-puteri Seko. Selain pengetahuan ilmu dan teknologi pendidikan anak-anak kita juga harus diberi dasar moral kejujuran dan tanggungjawab.

Saya tekankan juga bahwa masyarakat Seko akan terpuruk jika para pemuka dan pemimpin masyarakat Seko tidak kompak bersatu saling mendukung, jika mereka tidak mempunyai visi (cita-cita) yang jelas dan yang gigih diperjuangkan bersama, dan jika mereka tidak secara kritis dan tegas menentang sepak terjang orang-orang dari luar yang mencari kepentingan diri atau kelompoknya di Seko.

Terima kasih, selamat melakukan perayaan, teriring salam doa kepada Ibu/Bapak/Saudara: tua-tua, pemuka dan masyarakat Seko semua, Tuhan kiranya tetap memberkati masyarakat Seko seluruhnya, di Seko dan di rantau.

Saya tutup sambutan ini dengan mengutip sebait syair lagu karangan almarhum Bapak P.K. Bethony:

Tanga’ku paissa’ku, pahelakku uppana Seko matida,
Kalihayoku, hatang puttiku, kupehea idio Tana Seko.


Rantepao, 7 October 2007


Zakaria J. Ngelow
Ketua Yayasan Ina Seko

22 September 2008

Toseko Pindah ke Seriti

[Naskah awal, masih akan diperluas]
Sekilas Pandang Kepindahan Keluarga Baroppa’ ke Seriti Kec. Lamasi Kabupaten Luwu.
oleh A.K. Samben

Sistimatika kepindahan

I. Latar Belakang
II. Mengapa pindah ke Seriti
III. Penjejakan pencarian lahan.
IV. Bermukim di Seriti
V. Kelurga yang mula-mula pindah ke Seriti

I. Latar Belakang

Pada tahun 1951, Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dipersiapkan menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk persiapan itu mereka dinamai Corps Tjadangan Nasional atau CTN. Sementara menunggu proses mejadi Tentara Nasional Indonesia, mereka diangkut ke Tana Toraja dan ditampung di Makale, diasramakan di tiga tempat yaitu:

1. Di samping lapangan sepak bola Makale,
2. Di samping rumah Tuan Tanis (zendeling GZB, Belanda) bagian Selalan,
3. Dekat jembatan di Batupapan.

Tidak lama kemudian yaitu pada tanggal 16 Agustus 1951 mereka melarikan diri ke hutan dipimpin Andi Tanriajeng mengikuti jejak Kahar Muzakkar di Makassar yang masuk ke hutan untuk memberontak kepada pemerintah RI. Setelah itu CTN masuk hutan merekas disebut gerombolan DI/TII. Gerombolan itulah yang menyebar di Luwu, menjadi pengacau dari Palopo Selatan, sekitar kota Palopo dan Palopo Utara (sekarang telah menjadi kabupaten Luwu Utara, dan Luwu Timur). Daerah-daerah Rampi, Rongkong dan Seko dikuasai gerombolan DI/TII, sehingga menjadi daerah tertutup. Dalam hal itu pemerintah RI di kota dan daerah-daerah tersebut tidak ada lagi. Pada tahun 1952 setelah libur panjang, pelajar/ siswa tidak diperbolehkan lagi ke kota untuk melanjutkan studi. Demikian juga para pegawai negeri dari Rongkong dan Seko dihadang di Kanandede, dan disuruh kembali ke kampung mereka masing-masing.

Selanjutnya gerombolan DI/TII mengeluarkan peraturan bahwa di daerah tertutup itu masyarakat hanya diperbolehkan menganut salahsatu agama, yaitu Islam atau Kristen. Bagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan animisme diperintahkan memilih salah satu agama, Islam atau Kristen, ternyata masyarakat itu lebih banyak memilih agama Kristen. Gerombolan DI/TII menunjuk beberapa orang Seko untuk menjadi perwakilan masyarakat di pusat pemerintahannya, yaitu di Talo’ bo’, daerah Suli (Palopo Selatan). Mereka itu adalah:

P. K. Bethony (alm)
Yohanis Lembeh
Yan Pomandia
Yohanis Pangimanan (alm)
Oso Bambangi (alm)

Tetapi mereka ini melarikan diri dari Talo’bo’ ke Bajo’ pada Desember 1953 karena dipaksa memilih masuk Islam atau mati. Pemaksaan seperti itu berlaku juga disemua daerah yang dikuasi gerombolan. Karena pemaksaan ini beberapa pemuda dari Baroppa’ melarikan diri ke Makki antara lain Sarambu, Kontang (Y.K Ngelow) dll. Keadaan sangat mencekam. Pada tahun 1953 pemaksaaan masuk Islam berlaku di Beroppa’. Tidak masuk Islam berarti mati. Pada tanggal 1-9-1953 masyarakat Beroppa’ digiring oleh DI/TII ke sebuah sungai di sebelah barat Beroppa’ untuk di-islamkan. Mulailah terjadi pembunuhan. Di Beroppa’ lebih dari 10 orang dan di Pohoneang (Seko Tengah) 8 orang pemuda, yaitu Tungga (guru) dkk. Oleh sebab itu guru-guru dan pemuka masyarakat dan yang merasa tidak aman, melarikan diri dan mengungsi ke Makki (daerah Mamuju). Pemuda-pemuda yang melarkan diri itu, membentuk suatu organisasi OPR bersama-sama dengan OPR Makki dan kembali menyerang DI/TII di Beroppa’, Kariango, dan Pohoneang. Kepala Beroppa’ (Takudo) melarikan diri dari perjalanan dengan pasukan gerombolan ke Rongkong, dengan menyusur anak sungai Tassi, lewat lereng gunung Malimongan, tembus ke Se’pon (Lantang Tedong), seterusnya ke Makki. Pada tahun 1954 masyarakat Seko keseluruhannya mengungsi, Seko Lemo dan Seko Tengah ke Makki, sedangkan Seko Padang ke Palu Sulawesi Tengah.

Setelah beberapa lama di pengungsian (Makki) ada beberapa keluarga dari Beroppa’ mencari tempat mengungsi yang lebih aman di Baruppu’/ Pangala (sekarang Kec. RindingAllo), Tana Toraja. Apa lagi di Baruppu’ banyak keluarga/ kerabat dekat keturunan Ne’ Sidara (Pao’ton) yaitu anak cucu dari Matangke’. Pemerintah kecamatan Rindingallo menampung pengungsi itu di Panggala selama satu bulan. Setelah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten Luwu, pemerintah Tana Toraja mentransmigrasi-lokalkan mereka ke daerah Luwu yaitu di Rambakulu, antara desa Padangsarre dan Tarue di Distrik Sabbang. Pada saat itu pemerintah mendatangkan 9 truk untuk mengangkut mereka. Tetapi hanya 6 orang yang mau ke Luwu, dan sebagian besar menolak untuk ikut. Mereka masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu di Seko (Beroppa’). Alasan mereka bahwa apa yang ditinggalkan di Seko (Beroppa’) itu juga yang akan ditemui kalau pindah ke Luwu. Mereka menganggap daerah Luwu bagian pantai adalah sarang gerombolan DI/TII, sehingga tidak mau diangkut ke Luwu.

Akhirnya pemerintah Tana Toraja memukimkan mereka di suatu tempat di To’ tallang, yaitu di Lamboko, bagian barat Panggala’. Di Lamboko ini pengungsi mengolah tanah untuk ditanami kebutuhan pangan. Walaupun tanah itu gersang dan tandus, tanahnya kurus tetapi mujizat Tuhan nampak kepada mereka. Hasil tanah olahan memberi buah yang melimpah. Tanaman ubi jalar, ketela pohon, sayur-sayuran, jagung, padi, semuanya memberikan buah/ hasil yang memuaskan. Hasil tanah olahan mereka, dipasarkan ke Pangala’ dan Baruppu. Pemasaran hasil tanah olahan pengungsi itu hanya dilakukan pada hari Senin sampai hari Sabtu. Mereka hidup sejahtera karena berkat Tuhan.

II. Mengapa Pindah ke Seriti

Seriti terletak di Distrik Walenrang (sekarang Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu). Setelah beberapa lama bermukim di Lamboko, tanah olahan semakin kurang memberikan hasil. Pada suatu waktu berkunjunglah Pdt. F. Rambu ke sana . Beliau memberi saran, bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberi berkat kepada pengungsi Seko di Lamboko, sama seperti bangsa Israel di padang gurun dalam perjalanan menuju tanah Kanaan. Tuhan memberikan roti manna” dari sorga di daerah Lamboko, yang sejak dulu tidak dihuni orang karena tanahnya gersang dan kurus. Tetapi berkat itu sementara saja, jadi sebaiknya masyarakat Seko berusaha mencari daerah yang lebih menguntungkan serta memberi harapan masa depan yang lebih baik, demi generasi selanjutnya. Demikian antara lain saran dari Pdt. F. Rambu. Saran-saran dan pandangan dari Pdt. F Rambu itu membuka wawasan, serta memberi motivasi kepada pengungsi di Lamboko untuk mencari tempat bermukim di Luwu.

III. Penjejakan/ Pencarian Lahan.

Salah seorang warga Seko, H. Angka, mempunyai niat dan kemauan besar untuk mencari pemukiman baru di Luwu. Niatnya itu disampaikan kepada Herman Soang ( Ambe’ Pabali) dan anggota jemaat di Lamboko.

Maka pada tahun 1960 H. Angka dan H. Soang meninjau ke daerah Sabbang, antara desa Padangsarre dan Tarue. Daerah itu tanahnya subur dan baik untuk pemukiman. Namun mereka tidak tertarik bermukim di daerah itukarena tanah di daerah itu sudah pernah diolah oleh penduduk setempat, sehingga bisa menimbulkan masalah.

Setelah peninjauan daerah itu mereka kembali, dan dalam perjalanan pulang ke Tana Toraja, mereka singgah di Palopo, dan menginap di pondok penulis. Pada kesempatan itu kami berbincang-bincang mengenai perjalanan mereka sejak dari melarikan diri dari Beroppa’, mengungsi di Makki dan sampai di Lamboko. Dari perbincangan itu diketahui betapa beratnya penderitaan yang dialami penduduk Seko pada umumnya, orang Beroppa’ pada khususnya. Dalam pengungsian kadang-kadang dikejutkan berita bahwa gerombolan DT/TII akan menyerang mereka sehingga mereka tidak tenang dan tenteram. Karena itu ada sebagian yang terus ke Toraja, seperti sudah dikatakan di atas, pada bagian I.

Kami berbicara tentang penjejakan pemukiman di Rambakulu di daerah Sabbang, yang tidak mungkin, karena tanah yang ditinjau sudah diolah penduduk. Kemudian penulis mengajukan saran, bagaimana kalau ke Seriti. Di sana masih ada tanah kosong yang masih luas, tanah yang masih berhutan rimba yang belum dijamah manusia. Penting diketahui bahwa penduduk Seriti mengalami hal yang sama dengan orang Seko. Pada bulan Juni 1953, mereka diungsikan oleh pemerintah dari Palopo Selatan yaitu dari daerah Larompong, Suli dan Bajo karena gangguan keamanan dari DT/TII. Pada tahun 1952 masyarakat Kristen dari Palopo Selatan itu (mereka dari 2 klasis Gereja Toraja, Klasis Suli dan Klasis Bajo’) dipaksa pindah agama masuk agama Islam. Oleh sebab itu mereka berusaha berhubungan dengan pemerintah TNI, melalui guru-guru yang sudah lebih dahulu melarikan diri ke kota Palopo, diantaranya, Ch.Tottong, seorang guru asal Beroppa’. Penulis sampaikan bahwa jika mereka berada bersama-sama pengungsi dari Palopo Selatan, maka mereka akan merasa tenteram, merasa sependeritaan, serta sama-sama merasa suka dan duka dalam kehidupan sebagai pengungsi. Dan yang lebih utama, sependeritaan dalam satu keyakinan dan satu iman kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Waktu itu yang menjadi kepala kampung pengungsi di Seriti adalah Bapak Mangentang, paman dari Barnece Sonda/ Mama’ Yacob (istri penulis). Dengan demikian pengurusan sehubungan dengan pemukiman tidak akan dipersulit. Untuk menjaga keamanan terdapat pos-pos TNI di Seriti. Selain itu Sarunde’, salah seorang putra Seko yang pada waktu itu mengikuti latihan TNI di Palopo, juga memberi saran kepada H.Angka dan H.Soang supaya pindah ke Seriti.

Sepulangnya mereka ke Toraja, Sarunde megirim surat kepada L.Lingkan supaya segera pindah ke Seriti. Oleh sebab itu L.Lingkan lebih dahulu pindah ke Seriti dan langsung mengolah tanah untuk ditanami jagung. Setelah sampai di Lamboko, H.Angka dan Soang menyampaikan hasil percakapan dengan penulis di Palopo kepada orang Seko yang adalah anggota Jemaat Lamboko.

Rupanya mereka tertarik untuk pindah ke seriti. Maka pada tahun 1961 datanglahlah H.Soang, Y.Takundun, Tadanun , Atoran, Ambe’ Lati dan beberapa keluarga ke Seriti. Bersama dengan L.Lingkan yang telah lebih dulu datang ke Seriti mereka diantar penulis mengadakan penjauan lahan hutan untuk dijadikan tanah garapan. Mereka kagum melihat betapa lebatnya hutan rimba yang belum pernah dijamah oleh tangan manusia, dan mereka mengambil keputusan untuk pindah ke Seriti. Melalui penulis maksud mereka tersebut disampaikan kepada pemerintah setempat bahwa mereka akan pindah ke Seriti menyatu dengan orang-orang dari Palopo Selatan. Sesudah maksud mereka disampaikan, mereka kembali ke Toraja mengadakan persiapan untuk pindah bersama dengan anggota keluarga.

IV. Bermukim di Seriti

Pada bulan Juli 1962 datanglah beberapa kepala keluaga orang Beroppa’ ke Seriti sesuai dengan apa yang telah disampaikan sebelumnya kepada Kepala Kampung Seriti bahwa mereka akan pindah ke Seriti. Jumlah kepala keluarga yang pertama datang ke Seriti untuk membabat hutan, sebanyak 12 orang dan ikut serta 2 orang perempuan dewasa dan 2 orang anak perempuan.

Kepala Desa Seriti membagikan tanah yang masih berupa hutan rimba kepada mereka masing-masing satu hektar untuk dijadikan persawahan. Lebih dari satu bulan mereka merambah hutan bagian masing-masing. Pada setiap petang, ketika mereka pulang ke rumah, mama’ Yacob, istri penulis, selalu bertanya kepada mereka: “Den nasang sia mukun raka;” maksudnya, apakah tidak ada anggota rombongan yang ketinggalan di hutan. Setelah selesai membabat hutan yang dijatahkan oleh Kepala Kampung Seriti, mereka berangkat ke Toraja untuk menjemput keluarganya. Pongarong tinggal di Seriti menunggu keringnya hasil babatan untuk dibakar.

Pada bulan Oktober 1962, mereka yang pulang ke Toraja kembali ke Seriti, bersama dengan semua anggota keluarga masing-masing. Mereka ditampung di rumah penulis di Kelompok IV (empat) Salulompo. Tetapi karena jumlah anggota keluarga pada saat itu cukup banyak, kurang memungkinkan untuk tinggal semua di rumah kami, maka H.Angka mengusulkan kepada Mama’ Yacob supaya dibagi ke beberapa rumah keluarganya Mama’ Yacob yang tinggal bertetangga di kelompok Salulompo itu. Setelah dihubungi para keluarga itu dengan senang hati menerima mereka. Sementara itu, hutan yang sudah diolah mereka tanami jagung, sayuran dan padi ladang. Atas usaha dan kerja keras itu mereka memperoleh hasil yang memuaskan. Lama kelamaan ladang mereka dicetak menjadi persawahan. Demikianlah mereka mereka bisa hidup sejahtera berdampingan dengan para pengungsi dari Palopo Selatan yang lebih dahulu tiba di Seriti.

V. Keluarga Seko yang mula-mula pindah ke Seriti

1. Keluarga H. Angka (Ambe’ Parida) 7 orang
2. H. Soang (Ambe’ Pabali) 8 orang
3. Y.Takundun (Ambe’ Dani) 5 orang
4. Tirampo (Ambe’ Takundun) 4 orang
5. Pongarong (Lengken, Ambe’ Ki’jo) 6 orang
6. Paulus Balili’ (Ambe’ Lati) 8 orang
7. L.Lingkan (Ambe’ Hani) 6 orang
8. Gaang (Ambe’ Amo’) 10 orang
9. Bari ’ (Ambe’ Uma) 5 orang
10. Atoran (Ambe’ Rimu’) 6 orang
11. Lamodon (Ambe’ Becce’) 3 orang
12. Ampalla (Indo’ Nesi) 3 orang
13. Gerson Gitta (Ambe' Piter) 5 orang
14. Paa (Ambe’ Simon) 6 orang
15 Cangulu (Ambo’ Dewi) 4 orang (beragama Islam, berasal dari Bone, sudah lama bermukim di Beroppa’, lalu mengungsi ke Palopo dan menggabung dengan rombongan Orang Beroppa’ ke Seriti).
16. Pangkung (Ambe’ Jabbolo’) 5 orang

Sampai dengan tahun 2007, jumlah keluarga Seko di Seriti 86 KK, yang masuk anggota Kerukunan Keluarga Masyarakat Seko di Seriti, dan masih banyak yang belum terdaftar.

Seriti, April 2008

A.K. Samben asal Beroppa', Seko.
Pensiunan guru, tinggal di Seriti.

[Catatan: Teks karangan diedit oleh Zakaria Ngelow, dan diharapkan masih akan diperluas melalui percakapan dengan penulis).

13 Agustus 2008

Hari Jadi Seko?

Kawan2 yang baik,

Saya sangat berterima kasih atas pertemuan dan rapat Yayasan INA Seko yang dilakukan tanggal 3 Agustus 2008 di Rumah Pak Z. Ngelow dan apresiasi saya yang tinggi dimana kita sempat menyinggung perjalanan sejarah orang Seko yang merupakan bagian dari identitas yang tak terpisahkan dengan keberadaan kita sebagai orang seko.

Satu hal yang menurut saya sangat penting adalah bagaimana kita bisa menelusuri dimana sebenarnya titik dan tonggak sejarah dan perjuangan
masyarakat seko yang bisa kita ajukan untuk disepakati menjadi hari jadi "SEKO" yang bisa diperingati setiap tahunnya.

Dengan demikian pada acara peringatan 50 tahun masyarakat seko di pengungsian yang sudah kita diskusikan dalam rapat tanggal 3 Agustus yang
lalu temuan2 tersebut sudah bisa kita ajukan untuk dibahas dan mendapatkan kesepakatan dalam forum tersebut.

Mungkin itu dulu yang bisa saya sampaikan .

Salama'

Mahir

ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA
"Berdaulat Secara Politik - Mandiri Secara Ekonomi - Bermartabat Secara
Budaya"